Pages

 

Selasa, 17 Juli 2012

Kapan aku masuk Islam...?

0 komentar

Apabila seseorang masuk Islam kemudian baik ke-Islamannya, maka ia tidak disiksa atas perbuatannya pada waktu dia masih sebelum Islam, bahkan Allah Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala amal-amal kebaikan yang pernah dilakukannya. Subhanallah inilah kisah yang dialami oleh ibu Yoyoh Rokayah (84) yang telah diberikan hidayah-Nya, belum lama ini ibunda dari Hj. Nelih menjadikan Islam sebagai agama dan keyakinannya.
Segala puji hanyalah bagi Allah, Dia yang membolak-balikkan hati seseorang dan mengetahui ketetapan hati tiap hamba-Nya. Maka tiada sulit bagi Allah Swt. untuk memberikan hidayah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.
“Asyhadu alla ilaaha illallah Wa Asyhadu anna muhammadar Rasulullah“ (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Swt., dan Muhammad adalah Rasul-Nya). Dengan dibimbing ustad Aam Amiruddin, lafazh syahadat itu diikrarkan ibu Yoyoh, hari Sabtu (30/04/11), di masjid Al-Munajat komplek Batununggal Mulia X.No.11 Bandung. Menjelang Magrib itu, rasa syukur dan haru meliputi suasana yang khusyuk dan penuh rahmat-Nya.
Dalam sambutannya, Ibu Hj. Nelih mengutarakan dengan penuh syukur bahwasannya Allah Swt. telah memberikan pintu hidayah-Nya kepada ibunda tercinta. “Alhamdulillah. Ibunda masuk Islam dengan keinginannya sendiri tanpa ada paksaan dari siapa pun. Saya sendiri yang satu-satunya memeluk Islam di keluarga tidak berani memaksanya. Karena saya paham bahwa Islam melarang hamba-Nya untuk memaksakan seseorang untuk meyakini Islam sebagai agamanya,” ungkapnya.
Kata Hj. Nelih, ibunda masuk Islam bukan tanpa proses panjang dan berliku. Sejak awal, di masa Hj. Nelih pertama masuk Islam tahun sembilan puluhan memang mengharapkan ibunda juga memeluk Islam. Tapi bukan perkara mudah baginya untuk mengajaknya secepat itu, sebab kakaknya yang lain—yang berbeda keyakinan pasti tidak akan menyetujuinya.
Makanya, Hj. Nelih sangat berhati-hati dalam bicara soal keyakinan di lingkungan keluarganya. Tapi sebagai umat islam, hamba-Nya di syariatkan untuk menjadi mubaliq (menyampaikan pesan Al-Quran dan Hadits Rasul sesuai dengan kemampuannya), sebagaimana yang dia pahami tentang pesan Rasulullah, "Ballighuu `anniy walau aayah, sampaikanlah tentangku walau satu ayat yang kalian tahu!
Selama puluhan tahun bersama ibunda, Hj. Nelih tidak pernah mengajak langsung ibunya untuk mememeluk Islam, apalagi memaksanya. Tapi selama puluhan tahun itu, ia berdakwah dengan cara yang sederhana khususnya dengan menunjukkan perilaku kasih sayang dan berbakti kepadanya dengan penuh kesabaran dan berdoa dalam tiap shalatnya.
Boleh jadi, buah kasih sayang dan baktinya kepada sang ibu, Allah Swt. menurunkan hidayah kepada ibunda sebagaimana yang didoakan anaknya. Buktinya, ibunda sangat terkesan kepada bakti putri bungsunya itu. Yang tiap saat senantiasa memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepadanya, baik secara materi maupun perilaku baktinya.
Boleh dikatakan juga, proses lain yang menyertai datangnya hidayah kepada ibunda Yoyoh muncul karena senantiasa beliau mendengar pengajian yang diadakan YUMI (Yayasan Ukhuah Mualaf Indonesia) di rumah Hj. Nelih. Di sini, ibu Yoyoh secara tidak langsung suka mendengar tausiah ustad Kwi Han.
““Metode dakwah yang dilakukan YUMI adalah dengan cara bersilahturahmi dari rumah ke rumah. Salah satunya pengajian yang diadakan di rumah Hj. Nelih yang sudah berlangsung selama tiga tahun,” ungkap Kwi Han.
Kebahagiaan pun bukan saja datang dari Hj. Nelih, handaitaulan, para saksi dan undangan. Ustad Aam Amiruddin selaku pebimbing pun sangat terharu menyaksikan sejarah penting yang penuh ibrah bagi setiap hati ini. Demikian yang diungkapkan dalam pembukaannya saat itu. Dalam tausiah singkatnya, ustad Aam Amiruddin mengatakan,
Dalam sebuah hadits dinyatakan, dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw. bersabda: “Jika baik keIslaman seseorang di antara kalian, maka setiap kebaikan yang dilakukannya akan ditulis sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Adapun keburukan yang dilakukannya akan ditulis satu kali sampai ia bertemu Allah.”
Dari Hakim bin Hizam r.a, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Saw. bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.”
Kapan saya di-Islam-kan?
Bila diselusuri kisah awal ibu Yoyoh hijrah ke agama Allah Swt. Boleh jadi, setiap hati akan merasa terharu. Betapa tidak, kisah ibu dan anak bungsunya ini menunjukkan perjuangan yang cukup panjang yang menguras perasaan dan pikiran, khususnya bagi Hj. Nelih yang satu-satunya memeluk Islam di keluarganya.
Ibunda Yoyoh sendiri adalah warga keturunan Thionghoa. Awalnya ia seorang Budha, dan keempat anaknya yang lain memeluk agama yang berbeda, anak pertamanya Kristen, kedua Budha, ketiga Kristen keempat Katolik dan anak bungsunya, Ibu Hj. Nelih memeluk Islam.
Hajah kapan saya di-Islam-kan? Tanya ibunda kepada putri bungsunya. Pertanyaan ini sudah muncul sejak tiga bulan yang lalu. Diakui Hj. Nelih, pertanyaan itu tidak lantas membuat dia tergesa-gesa mengabulkan keinginan ibundanya. Dengan penuh pertimbangan yang matang, Hj. Nelih berkali-kali menanya balik,”Benar Mamah ingin masuk Islam?”. Bekali-kali juga ibu Yoyoh menjawab, “Ya”.
“Mamah. Jangan sampai kakak yang lain menganggap mamah masuk Islam itu dipaksa sama Nelih. Jadi lebih baik, utarakan saja keinginan Mamah dengan bicara sendiri ke semua kakak. Ini kan bukan masalah ringan bagi Nelih, takut nanti ada perselisihan antara saya dan kakak-kakak yang lain,” pesan Hj. Nelih ke ibunya.
Dengan penuh kesungguhan, walaupun dengan via telepon. Ibu yoyoh mengutarakan keinginannya kepada anak-anaknya yang lain. Walapun jawaban dari keempat saudara Hj.Nelih seolah tidak mengiyahkan dan tidak menolaknya. Ibu Yoyoh merasa cukup memberitahukan niatnya.
Walaupun begitu, bagi Hj. Nelih niat ibundanya itu belum cukup meyakinkannya. Maka dia selalu menanyakan kemantapan ibunya untuk memeluk Islam. Sepertinya, tidak terlalu berlebihan sikap Hj. Nelih serupa itu. Sebab, dia takut ibunya setelah masuk Islam akan keluar lagi melihat atau mendengar tentang orang-orang Islam sebagaimana yang diberitakan di banyak media.
Hj. Nelih memahami bahwa banyaknya orang jadi mualaf tapi setelah mendengar dan melihat tentang orang Islam yang buruk-buruk akhirnya kembali ke agamanya yang sebelumnya. Rasa khawatir itu yang ada dalam hati dan benaknya sehingga harus bersikap hati-hati terhadap niat ibunya itu.
Subhanallah. Hj. Nelih dan ibunya senantiasa diberi petunjuk dan jalan-Nya. Bahkan segala kemudahan menyertai perjalanan ke-Islaman-nya. Betapa tidak, ketetapan hatinya dijaga Allah Swt., sehingga waktu itu ibu Yoyoh dengan keyakinannya sendiri memeluk Islam dengan lancar dihadapan wakil Kementerian Agama Kota Bandung, DKM masjid Al-Munajat, warga komplek Batununggal, DKM Masjid Latze, YUMI, para saksi dan para undangan lainnya.
Dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash r.a, bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda, “Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, dan diberi rizki yang cukup dan Allah memberikan sifat qana’ah (merasa cukup) atas rizki yang ia terima.

Sumber Warta Islam.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
. © 2012 Berbagi Syiar Islam. Supported by Ilman-Islam and Graficom